Hari itu, seperti hal nya umat manusia biasa, aku bangun dari tidurku. Bukan karna alarm, atau karna aku emang suka bangun pagi, atau karna kolorku basah kena ompol, atau karna matahari udah tenggelam lagi, namun aku bangun karna ibuku secara tiba-tiba mengeluarkan sebuah amandemen yang berbunyi,"yok!! bangun !! kasurnya diturunin !! mau ada sodara yang dateng, pake kamar ini !!"
Dengan kondisi setengah sadar dan setengah sangar, aku bertanya," loh, kenapa gak pake kamar yang satunya??"
"kamar yang itu kayak gudang, masa buat tamu dikasih gudang?!"
"berarti aku pindah bu?"
"iya, udah cepet bantuin beresin, ibu juga capek ini, ngurusin rumah dan sebagainya!!"
Mood ku yang ketika itu masih seger, langsung anjlok, lebih anjlok dari not balok. Dan dengan betenya, aku mulai tidur lagi.
"malah tidur, ayo diberesin, udah mau sampai ini orangnya, tadi udah telpon, katanya perjalanan!!"
"iya iya.."
Aku mulai ngangkutin barang-barangku keluar kamar, ngambilin komik yang berceceran, sobek paksa wallpaper yang udah kubuat dari koran dengan penuh cinta, dan menaruh barang gadget dengan hati-hati. Ini adalah kedua kalinya aku diusir dari kamarku sendiri yang berada di rumahku sendiri. Dahulu aku diusir karna kamarnya adikku haru diperluas wilayahnya. Wilayah kekuasaanku pun menghilang, dan aku mengungsi diluar, mencari kawasan untuk membangun koloni baru.
Waktu itu aku nanya ibuku,"kok kamarnya Novi diluasin??"
Dan jawaban ibuku cukup simpel," Novi kan perempuan, anak perempuan kamarnya harus besar."
Aku diam tak berkata mendengar itu, dan berpikir, seandainya aku pria bertubuh perempuan tanpa harus mengalami menstruasi...
Kembali ke masa kini, aku beresin barang-barangku dengan penuh kebetean. Kekuatan jahat merasuki tubuhku, dan kekuatan baik merasuki tubuh orang baik. Selama beberapa jam, aku hanya bisa bete, galau, dan angry. Bahkan ke-angry-an ku melebihi angry bird. Dan setelah proses deportasi selesai, aku mogok mandi dari pagi sampe sore, aku mogok makan dari pagi sampe sore, dan aku mogok boker dari pagi sampe sore juga.
Selama aksi mogok berlangsung, aku cuma tidur, nyalain komputer, tidur lagi, nyalain komputer lagi, bener-bener berasa pecundang of the day. Rasanya pengen nangis, tapi tidak mungkin, karna aku adalah pria diantara pria. Dan dari pada nangis, aku menggunakan kekuatan pikiran untuk berfokus, mencari sebuah titik cerah dalam kegelapan, dan mengejar Sasuke yang semakin jauh. Aku harus menguasai kekuatan siluman rubah ekor sembilan, dan menjadi ninja hokage, seperti ayahku yang juga seorang hokage....fak, ini kan cerita Naruto!!???
Tapi dengan adanya kejadian deportasi pengusiran dari kamar di rumah sendiri ini,aku jadi tau dan sadar, kenapa Sasuke pergi dari Konoha, dan kenapa wolverine bisa lupa ingatan tentang masa lalunya. Dan aku juga tau, bahwa rumah yang aku tinggali ini, kamar yang aku tempati, motor yang aku tunggangi, hape yang aku cintai, dan kolor yang aku pake ini, semua adalah milik orang tua ku. Orang tua ku seharusnya berhak atas semua benda yang aku nikmatin ini. Orang tua ku lah yang menghidupiku selama bertahun-tahun ini. Kejadian pengusiran dari kamar, bukan apa-apanya dibanding semua pengorbanan orang tua ku. Aku juga harus bersyukur, karna toh walaupun aku diusir dari kamar, aku masih bisa tinggal di rumah ini. Di rumah ini juga masih ada kamar kosong yang bisa aku tempatin.
Aku ngerasa sedikit bersalah karna udah mengeluarkan aura bete dan aura kasih dari hatiku. Seharusnya aku tidak kekanak-kanakan seperti itu, apalagi seperti ini (nunjuk Crayon Sinchan). Aku harus lebih dewasa, harus lebih tangguh dan menjadi pria diantara pria (sambil nunjuk Chuck Norris). Kejadian ini adalah cobaan, suatu saat, aku harus meninggalkan rumah ini, harus punya rumah sendiri (sambil nunjuk rumahnya Batman).
Bapake, Ibuke, aku masih pengen tinggal di rumah ini..
Selama aku masih bisa tinggal...fffufuufufufu...
Karna kelak aku bakal meninggalkan rumah ini, dan tinggal disini (nunjuk rumahnya Batman).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar